Pink Arrow, Bow Tie Hearts Blinking, Letter R

- Hello Creative People!

Senin, 01 Desember 2014

Jalan

Jalan

Oleh : Nur Aprilanya
Diketik tanggal 01 Desember 2014.
Bercerita tentang kisah si penulis sendiri / Saya.
           Orang itu, Sebut saja dia Tuan R. Aku sangat mengaguminya saat pertama kali aku melihatnya, bahkan sampai terbutakan ke dalam pikiranku. Aku tampak seperti orang bodoh, selalu mengikuti jalan Tuan R, tak henti-henti. Awalnya Aku hanya berfikir tak tahu apa dan dimana  jalan yang harus aku lewati dan terpaksa mengikuti jalan yang ia lewati, namun ternyata aku benar-benar mengikutinya sampai detik ini.
            Kedengarannya seperti tak punya tujuan sama sekali dalam hidup, ya memang seperti itulah. Bahkan aku sampai mengacuhkan hati dan fikiranku dan hanya mengikuti mata dan mulutku saja sampai-sampai aku lupa aku dimana dan aku sedang apa. Benar-benar bodoh. Aku benar-benar seperti tak memiliki tujuan hidup sama sekali, seakan aku tak memiliki jalanku sendiri. Aku hanya berfikir jika aku mengikuti jalan Tuan R tersebut aku akan bahagia. Namun ternyata berbanding terbalik.
           Aku benar-benar bodoh. Saat aku mengikuti jalan Tuan R, aku tak memikirkan sama sekali apakah jadinya jika aku mengikuti jalannya, yaa mungkin saja dia akan senang  dengan jalan yang ia pilih dan dapat melewati semua rintangan di jalan yang ia pilih.  namun, aku ? Bagaimana dengan diriku sendiri ? Apakah aku bisa melewati rintangan jalan yang di pilih oleh Tuan R ? apakah aku dapat bertahan jika terus melewati jalan yang sama dengan Tuan R? Apakah aku kuat dan tak akan menangis jika ada sesuatu yang menyakitkan aku saat aku tetap meneruskan untuk mengikuti jalan yang ia pilih ? Benar-benar tak terfikirkan olehku sampai kesana. Saat aku mengikutinya, aku hanya mengikutinya saja, saat ia tetap terus berjalan, aku berjalan, saat ia berhenti, aku berhenti, saat dia berbelok, akupun sama.
            Tiba-tiba ada seorang Nona V yang tanpa sepengetahuanku berada di jalan yang sama dengan Tuan R dan berjalan berdampingan dengan Tuan R. Saat itu aku ingin mundur, aku tak sanggup melihat itu namun aku tetap bertahan karena aku melihat Tuan R senang bersamanya jadi,  aku mencoba berjalan perlahan dibelakangnya, melihatnya berdampingan di jalan yang sama dengan Nona V dan tak memikirkan bagaimana hatiku yang akan sebegitu terlukanya jika terus mengikutinya. Aku menahan air mataku dan tetap mengikutinya walaupun aku harus berpura-pura berhenti dan bersembunyi saat mereka melihat kearahku dan mencoba bersembunyi agar tak terlihat kalau aku masih terus mengikuti Tuan R. Bahkan saat aku tersandung dan kesakitan karena jalan yang ku lewati benar-benar menyakitkan, aku tak berteriak meminta pertolongan Tuan R dan aku mencoba berdiri dan kembali berjalan mengikuti mereka.
           Namun suatu hari, tiba-tiba Nona V memilih jalan lain dan meninggalkan Tuan R. Tuan R berhenti seketika, lalu menunduk, kemudian menangis. Ia tak berani menarik Nona V karena ia tak mau memaksakan memilih jalan yang sama dengannya, jadi ia memilih Nona V memulai jalannya sendiri, yaa mungkin seperti itulah yang ada difikiran Tuan R, Aku tak tahu.  Aku seketika berhenti dan air mataku tiba-tiba jatuh di pipi saat melihatnya menangis dan aku pun ikut menangis. Aku hanya bisa mengikutinya dan mengikutinya saja. Aku tak berani menghampirinya saat itu, sebenarnya aku ingin sekali memberikan pundakku saat ia menangis saat itu, walaupun aku tahu aku adalah seorang wanita dan seharusnya pria lah yang melakukan itu.
        Saat dia berlari sekuat tenaganya dan mencoba melewati jalan yang menyakitkan untuknya, aku pun mencoba berlari sekuatku agar tetap terus berada di jalan yang sama dengannya dan tak kehilangan jejaknya.
Suatu hari, jalan baru seperti membuka pintu dan lembaran baru. Aku masih sama sekali tak berani jika harus berjalan di sampingnya. Bukan karena ia menakutkan, karena banyak sekali orang yang melingkari dirinya setelah perginya Nona V dari sampingnya sehingga aku tak berani berada di sampingnya. Jika aku tiba-tiba ada di lingkaran itu , apa yang akan ia fikirkan tentangku ? aku bahkan tak berani menerka.
                Ketika aku sudah benar-benar lelah dan malas mengikuti jalannya lagi, aku mencoba kembali mundur dan mencari jalanku sendiri atau mencari jalan orang lain yang mungkin sejalan denganku seperti hal yang di lakukan oleh Nona V terhadap Tuan R. Aku ingin juga melakukan itu namun, ketika aku menoleh ke belakang, banyak bayang-bayang dalam kenangan jalan itu sehingga tak mungkin aku menghapusnya. Melewatinya pun aku tak berani karena terlalu sakit jika aku melewati lagi jalan lama dan mencari jalan baru. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti jalannya lagi.
          Terdengar seperti orang yang sangat egois, aku tak memikirkan bagaimana maunya hatiku. Saat aku sebenarnya ingin memilih jalan Barat namun Tuan R memilih jalan Timur, lalu aku menghiraukan hatiku dan mengikutinya saja. Aku benar-benar bodoh. Bagaimana aku bisa seperti ini? Apakah ia memikirkan aku yang selalu di belakangnya dan mengikuti dirinya ? Hal itu bahkan baru terfikirkan saat jalan yang ku lalui sudah benar-benar jauh dari start. Aku kembali mencoba berlari ke belakang, menutup mataku dari semua bayang-bayang kenangan masa lalu dan memulai  jalan baru dari start. Namun aku tetap kalah dan tetap kembali berjalan mengikutinya.
        Aku tak tahu saat aku mencoba berlari pergi menghilang darinya, apakah dia menoleh kearahku atau tidak, mencariku atau tidak. Aku bahkan tak tahu apakah ia akan mundur mencariku dan memelukku dari belakang dan sadar ada seseorang (yaitu aku) yang berada dibelakangnya. Aku tak tahu apakah dia melakukan itu atau tidak. Dia seperti tak mengetahui apapun di belakangnya dan seakan seperti tetap berjalan terus tanpa menoleh, aku sempat kecewa saat memikirkan hal itu.
         Aku ingin berbicara padanya, aku ingin ia tahu aku masih tetap mengikutinya sampai saat ini namun aku tak berani. Jika aku membentaknya, itu sama saja seperti aku menyakiti diriku sendiri. Dan banyak di sekelilingnya yang melindungi dirinya, aku tak berani melakukan itu.
             Semakin hari seakan ia terlihat menyakitiku, sepertinya ia tahu bahwa aku masih mengikuti jalan yang ia selalu lewati hingga saat ini. Mungkin ia sempat menoleh dan ternyata sadar akan keberadaanku dibelakangnya. Ia menyakitiku dengan berjalan berdampingan dengan banyak Nona lalu merangkulnya, terlihat seperti Playboy, aku benar-benar kecewa melihatnya. Aku seakan menyesal mengikuti dirinya sampai sejauh ini. Sudah berapa tahun ini? Sudah berapa Kilo meter ? Sudah selelah apa ? Aku bahkan sudah malas menyebutkannya. Aku tak mampu berbicara saat melihat tingkahnya yang benar-benar berbeda dari awal aku bertemu dengannya. Air mata kembali menetes dipipi dan Aku menghentikan langkahku.
           Hingga suatu hari, Ada seseorang yang mengikuti jalanku, melakukan semuanya sama seperti aku melakukan itu semua kepada Tuan R, namun aku masih tetap mengikuti jalan Tuan R. Haruskah aku melakukan hal yang sama yang di lakukan oleh Tuan R terhadapku ?
           Hingga saat ini, semua pikirannya adalah pikiranku, aku akan bahagia jika ia bahagia, aku akan menangis jika ia menangis, dan aku mencoba menyukai sesuatu hal yang ia sukai, hobinya adalah hobiku, tawanya adalah tawaku. Cintaku benar-benar membutakan mataku dan mengendalikan segala tubuhku dan fikiranku sampai aku tak bisa mengendalikan segala tulang dan sendiku sendiri. Itulah aku.
       Jadi, inti dari semua ini adalah, kau seakan navigasiku, Arah jalanku adalah dirimu.

Setelah ini, masihkah kau belum mengerti hatiku ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar