Pink Arrow, Bow Tie Hearts Blinking, Letter R

- Hello Creative People!

Sabtu, 06 Desember 2014

Terlambat



Terlambat

By : Nur Aprilanya



           3 Bulan lamanya aku menempati kelas XI. Aku bertemu dengan seorang pria bernama Deno, dia teman sekelasku yang duduk di pojok dekat pintu disebelah kiriku, dia dibarisan ketiga dari depan. Aku curiga awalnya dengan sikapnya yang selalu perhatian denganku, selalu mendekatiku , mencoba akrab denganku, namun aku cuek dan tak merespon itu semua karena aku tipikal orang yang pemalu, kaku, dan jutek kalau dekat dengan seorang pria. 
           Suatu ketika, ada seorang temanku berkata kalau Deno ternyata menyukaiku, aku benar-benar kaget dan tak mengira kalau selama ini, selama dia mendekatiku, ternyata dia menyukaiku dan mencoba mencari simpatiku . Aku tak langsung mencoba merespon dan membuka perasaanku untuknya karena aku masih menyukai seseorang teman smpku yang sekarang menjadi teman smaku juga bernama Alvian. 
             Dia terus mendekatiku, dan selalu melakukan apapun yang dia bisa agar dapat perhatian dan simpati dariku. Mencoba membuatku tertawa namun aku tetap tak menghiraukan kelakuannya. Dia terus melakukan itu terus menerus. Namun caranya mendapatkan perhatian dariku sangat berlebihan sehingga aku tak bisa membalas dengan rasa simpati kepadanya. Aku memanfaatkan seseorang untuk membuat dia cemburu dan tak menyukaiku lagi dan tak mencoba mencari rasa simpatiku lagi agar aku menyukainya. Orang itu adalah Alvian. Aku tak memanfaatkan Alvian untuk membantuku agar Deno cemburu, namun aku membantu teman-temanku untuk selalu membicarakan perasaanku terhadap Alvian dan aku selalu menjawab kalau aku mencintai Alvian dan hanya mencintai Alvian dan tak berniat untuk membuka hatiku untuk orang lain. Aku selalu melakukan itu semua saat jam pelajaran kosong dan dia sedang duduk ditempat duduknya dan aku sengaja berbicara keras agar Deno tau aku tak bisa mencintainya. 
           Aku berusaha setiap hari membicarakan Alvian dikelas agar Deno cemburu, dan tak mendekatiku lagi dan ternyata berhasil. Semua usaha yang ku lakukan berjalan dengan baik, dia menjauhiku dan mulai tak mendekatiku lagi. Awalnya aku merasa aku akan sangat senang namun setelah aku fikir-fikir lagi setiap hari, ternyata aku merasa bersalah dan tak enak hati kepada Deno. Aku merasa jika aku tak ingin membalas perasaannya, seharusnya aku berbicara baik-baik pada Deno dan berkata kalau hatiku sudah terisi oleh orang lain sejak smp hingga sekarang namun penyesalan memang selalu datang terakhir, mau tak mau, sanggup tak sanggup aku harus bertanggung jawab atas tindakan dan kelakuanku selama ini. Jika dia membenciku, aku harus menerima semua itu. Setelah kejadian tersebut, aku mencoba tak membicarakan Alvian lagi dan focus pada pelajaran. 
          1 bulan kemudian, dia mulai mendekatiku lagi. Trik kali ini berbeda dari sebelumnya, dia mendekatiku secara diam-diam. Saat keramaian, saat aku sedang berkumpul bersama teman-temanku ditempat dudukku, membicarakan hal yang menurut kami enak untuk dibicarakan dan saat itulah dia mencoba bergabung dengan kami dan berpura-pura duduk didepanku hanya untuk duduk dan tidak ikut gabung dan berbicara. Kali ini, aku benar-benar tak menyadari kalau dia mendekatiku lagi. Aku cuek saja dan tetap sibuk dengan teman-temanku saja. 
            Beberapa minggu kemudian, aku mulai sadar dan mulai merasa dia terus berusaha mendekatiku lagi. Aku tanpa sadar akan tingkahku, aku membicarakan Alvian lagi didepannya. Bukan untuk bermaksud agar dia cemburu dan pergi lagi agar tidak terus berusaha mencari simpatiku lagi namun untuk membuatnya cemburu karena aku ingin tahu apakah dia benar-benar menyukaiku atau tidak. Ditambah lagi, aku mulai akrab dengan teman sekelasku, dia juga seorang pria bernama Riga. Aku kemana-mana selalu dengannya dan dia selalu mentraktirku makan begitupun denganku kepadanya. Deno kembali menjauh. Sepertinya dia tak berani mendekatiku karena ada teman sekelas kami yang dekat denganku dan yang dekat denganku adalah teman akrabnya meskipun tidak sebangku. Setekah itu Deno hanya memperhatikanku dari kejauhan saja. Aku tahu karena saat aku sedang menulis dan mengerjakan tugas, dia selalu menengok ke arahku, lalu aku melirik kearahnya dan dia mengalihkan pandangannya ketempat lain agar tak ketahuan kalau dia sedang memperhatikanku. 
           1 bulan telah berlalu, Deno tak lagi kembali mendekatiku. Aku merasa aneh, dan terasa benar-benar berbeda. Aku menemui seorang temanku yang memiliki indra ke 6 dan bertanya kepadanya dan cerita-cerita banyak tentang kejadian satu sama lain. Nia, temanku yang memiliki indra ke 6 berkata bahwa ada seseorang yang menyukaiku dan mencoba mendekatiku namun saat-saat ini dia tak lagi mendekatiku dan memilih mundur karena dia melihat aku dekat dengan temannya dan aku juga selalu menceritakan Alvian setiap hari dan itu membuatnya memilih mundur, Dia tak berani mengungkapkan cinta padaku karena takut ditolak karena semua itu. Aku mulai memikirkan itu setiap hari dan merasa bersalah karena itu. 
             Saat pentas seni di sekolah, Deno menampilkan Bandnya di pensi tersebut. Aku melihatnya dan mulai merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya saat melihat Deno.  Jantungku mulai berdetak kencang saat melihatnya. Tiba-tiba dia tersenyum ke arahku, aku tersenyum tipis kepadanya lalu mulai kembali memainkan gitarnya sambil bernyanyi. “Semangat Deno!! Kamu yang terbaik! Love you.” Teriak seorang wanita yang ku kenal, dia adik kelasku. Deno tersenyum padanya dan mengacungkan ibu jarinya ke atas tanda dia mendengar suara wanita itu, wanita itu bernama Agata. Aku mengenalnya saat sekolah mengadakan acara Perkemahan. Aku menoleh kearah Agata dan ternyata benar, Agata adalah wanita yang berteriak tadi pada Deno. Ia sedang memotret Deno dan Bandnya dan tersenyu,. Saat Deno selesai mengisi acara dengan lagunya tadi, ia sedikit melirikku lalu memalingkan pandangannya padaku dan langsung berjalan menemui Agata dan merangkulnya lalu mengajak Agata pergi dari keramaian. Aku benar-benar kaget, ternyata Deno sudah menemukan wanita lain saat aku mulai mencoba mencoba membuka seluruh hatiku untuknya dan melupakan masa laluku yang dulu menyukai Alvian. Aku tersadar, aku telah terlambat membuka hatiku untuk seseorang. Seseorang yang mengejarku diam-diam dan mencoba mencari perhatianku selama kami kenal dikelas XI ini, ternyata telah membuka hatinya untuk orang lain, dan saat dia telah menemukan wanitanya, aku mulai membuka hatiku padanya. Seharusnya aku membuka hatiku untuknya namun sudah terlambat kini hanya penyesalan yang kurasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar